di jual satu paket, cewek montok ama ibunya buat beli narkoba


Untuk warga miskin, menjadi pecandu narkoba
merupakan malapetaka tersendiri. Ketergantungan untuk terus
mengkonsumsi barang haram itu mengakibatkan hati nurani dibuang jauh.

Tak hanya harus menjual segala isi rumah, tetapi juga mengkaryakan istri atau anak menjadi pekerja seks komersial.Don, contohnya. Pria berusia 38 tahun yang ditemui Pos Kota di Program Terapi Rumatan Metadon di Puskesmas Kecamatan Tambora, Jakarta Barat, itu sejak kecanduan telah menjual rumah satu-satunya di Kelurahan Krukut, mobil, dan motor.

Ayah dua anak itu bahkan melego perabotan rumah tangga, seperti meja
kursi sampai alat penggorengan. Kadang terpaksa mencuri harta benda
keluarga maupun tetangga. Dia juga pernah mencoba bunuh diri dengan
menenggak lima butir pil ekstasi sekaligus di sebuah diskotek kawasan
Mangga Besar, Jakarta Barat.

“Saat sekarat, samar-samar saya dengar teman-teman pada ribut menggotong saya ke rumah sakit. Yang membangkitkan semangat saya untuk
hidup lagi adalah tangisan anak bontot saat itu baru lima tahun, sambil
memeluk tubuh saya yang penuh jarum infus,” ungkap mantan manajer
sebuah bank yang gulung tikar 10 tahun lalu.

Tak kalah tragisnya kisah Eli, 25, yang juga pasien tetap di puskesmas
tersebut. “Saya pernah memotong urat nadi untuk menghabisi penderitaan
digerogoti narkoba. Tapi usaha bunuh diri ketahuan keluarga dan saya
dilarikan ke rumah sakit,” ujar tukang parkir di Jembatan Besi.

JUAL ISTRI & ANAK

Don dan Eli tergolong masih lumayan. Karena, seperti dikemukakan pengamat perempuan DR Giwo Rubinato Wiyogo, banyak pecandu narkoba tega menyuruh anak atau istrinya untuk menjadi pekerja seks.

Mantan ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) itu mengemukakan malapetaka dalam rumahtangga itu terjadi semata-mata karena pecandu membutuhkan uang untuk membeli narkoba. “Karena itu, jangan pernah sekalipun bersentuhan dengan narkoba. Begitu nyoba, begitu langsung menjadi budan setan. Apalagi di Jakarta, tampaknya narkoba mudah didapat,” tegasnya.

KEKERASAN SEKSUAL

Sedangkan Sekjen Komisi Perlindungan Anak (KPA), Arist Merdeka Sirait,
mengungkapkan makin merajalelanya peredaran narkoba juga berdampak pada tingkat kekerasan terhadap anak baik kekerasan seksual, fisik maupun
penelantaran.

Dari data KPA 2010 dari 2.335 aduan, 68,7 persen diantaranya adalah
kasus kekerasan seksual. Jumlah tersebut meningkat dari tahun
sebelumnya yang sebanyak 1.998 kasus. Bahkan di 2011 yang belum genap
satu bulan Arist mengaku telah mendapat aduan sebanyak 127 kasus.

“Kebanyakan dari pelaku mengaku melakukan kekerasan lantaran tengah
mabuk baik karena narkoba maupun minuman keras,” ujar Arist. Hal ini
mengindikasi bahwa terus merebaknya peredaran narkoba maupun miras
mengakibatkan meningkatnya jumlah anak yang menjadi korban kekerasan.

19.000 PECANDU

Jakarta memang masih menjadi surga pengedar dan pecandu narkoba. Dari
data Badan Narkotika Nasional (BNN) sedikitnya 5 dari 100 warga
merupakan pecandu barang haram tersebut. Sekitar 19.000 warga menjadi
pengguna narkoba.

“Sebagai ibukota dengan segala kemudahan akses Jakarta merupakan daerah
tertinggi dalam tingkat penggunaan narkoba,” ujar Direktur Advokasi
BNN, Brigjen Pol Anang Iskandar. Sedikitnya terdapat tiga upaya
dilakukan yakni pencegahan, rehabilitasi dan memutus jaringan
peredaran.

Sementara itu, Pelaksana Harian (Plh) Badan Narkotika Provinsi (BNP)
DKI, Rospen Sitinjak, menyatakan untuk tahun ini pihaknya telah
mengalokasikan anggaran sebesar Rp15 miliar. Dana tersebut nantinya
digunakan sebagai pembiayaan sosialisasi serta penyuluhan bagi warga
terhadap bahaya narkoba.

“Penyuluhan secara rutin kami lakukan di seluruh elemen masyarakat seperti sekolah dan lingkungan yang dinilai rawan peredaran narkoba,”
ungkap Rospen.(joko/guruh/ak/aw)
TEKS FOTO: Sejumlah pecandu narkoba antre minum Metadon di Puskesmas
Kecamatan Tambora.

http://www.poskota.co.id/berita-terkini/2011/01/28/banyak-pecandu-jual-istri-demi-narkoba

Related Post